Laman Dailymail, melansir kedua pasangan yang berasal dari Longhai, sebelah tenggara Provinsi Fujian, mengaku sudah berupaya membawa putranya ke RS terdekat. Namun saat mengetahui Hai menderita stress berat dan gejala kelainan kejiwaan, pihak RS menolak merawat Hai.
Mereka akhirnya terpaksa mengurung Hai di sebuah penjara terbuat dari batu berukuran lima meter persegi. Dalam beberapa gambar yang dilansir Dailymail, terlihat Hai dalam keadaan kusam dan meringkuk di dalam gubuk, tanpa sehelai benang pun.
Penjara batu ini berlokasi di belakang rumah pasangan suami istri itu. Untuk memantau keadaan putranya, Watou sengaja membuat celah kecil di penjara itu.
Celah tersebut digunakan juga untuk memberikan makanan bagi putranya yang disajikan dalam kaleng. Untuk membersihkan kotorannya, sang ibu, akan menyemprotkan air dan menyeroknya dengan menggunakan sekop yang telah dipasang di sebuah bambu.
Mereka mengaku sedih dan prihatin melihat kondisi putranya yang tidak juga membaik. Keduanya mengaku telah menghabiskan seluruh tabungan yang mereka miliki demi kesembuhan Hai.
Kini demi bisa bertahan hidup, pasangan ini kerap melakukan pekerjaan yang tidak biasa. Tahun lalu, Waitou bekerja sebagai mandor di sebuah pembangunan desa.
Namun dia terpaksa kehilangan pekerjaannya itu, karena ditabrak mobil oleh seorang pengendara mabuk. Alhasil, kini bekas luka panjang melekat di kaki sebelah kanan dan dia sudah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan berat.
Kini di kala keduanya telah mendekati usia 70 tahun. Mereka takut tidak ada yang menjaga putra semata wayangnya itu setelah mereka tiada. (umi)
Inhumane: Dong Waitou peeks through a hole in the stone wall to check on his son, who has not left the stone hut in 30 years
Distant: Food is served in a tin can and passed through the hole in the wall. Hai receives no physical contact despite living just yards from his elderly parents
Drastic: the couple say deciding to cage their son was the hardest choice they've ever made
No comments:
Post a Comment