Museum Titanic di Branson, Missouri, merupakan sebuah museum yang didedikasikan untuk kisah kapal Titanic yang tenggelam pada tahun 1912. Museum ini berbentuk layaknya Kapal Titanic, museum ini sebesar replika-setengah bagian depan kapal, berlabuh di sebuah kolam kecil untuk menghasilkan ilusi laut dimana Titanic tenggelam. Sebuah replika bongkahan es tepat didepan kapal merupakan pintu masuk. Ketika masuk dalam museum, pengunjung akan disuguhi banyak replika lain, seperti tangga megah (dimana Jack ketemu Rose), Ruang Makan Malam, Kabin Kelas Pertama, Kabin Kelas Ketiga, jembatan, serta lebih dari 400 artefak dari kapal yang tenggelam tersebut, disuguhkan dalam 20 ruang yang berbeda. Museum ini juga punya banyak pameran interaktif seperti bongkahan es yang bisa dipegang, jembatan menuju ruang kapten (dimana kapal ini dikemudikan), ruang Telegraf dimana awak kapal bisa mengirim pesan SOS, dan banyak aktor yang berperan layaknya kru kapal.
Ketika memasuki museum Titanic, pengunjung akan menyerahkan tiket dengan nama salah satu penumpang yang sebenarnya yang berlayar kapal. Pengunjung tidak akan mengetahui apakah nama yang dipegang hidup atau mati, sampai hampir ke akhir tur keliling, ketika mencapai Memorial Wall di mana ditampilkan nama-nama semua 2.208 penumpang dan cerita-cerita mereka.Semua pegawai museum berkostum layaknya kru kapal Titanic,ada seragam officer, ada juga seragam pelayan wanita, dan tentu ada Kapten Kapal. Sebuah audio (dari speaker tersembunyi) mengiringi tur, seperti bunyi denting bel, peluit kabut, yang membuat pengunjung benar-benar merasakan atmosfir Kapal Titanic.
Ruangan yang tenggelam menyuguhkan serangkaian deck miring yang semakin curam di mana pengunjun ditantang untuk tetap berdiri, terdapat pula sebuah sekoci di mana pengunjung bisa duduk, dan semangkuk air garam dengan dingin -28 derajat di mana pengunjung ditantang untuk membenamkan jari dan mengukur daya tahan dengan dekatnya jam dinding didekatnya. Ini membantu para pengunjung memahami mengapa hampir semua orang di dalam air cepat menyerah.













No comments:
Post a Comment