Putri satu-satunya Komponis sekaligus pahlawan Nasional itu sedang bergelut dalam kemiskinan. Bahkan ia nyaris tak mampu memperpanjang usia kontrakannya yang hampir habis. Bantuan pemerintah sebesar 1,5 juta sering terlambat, katanya. Uang sebesar itu dibayar pemerintah setiap empat bulan. Untuk memperpanjang hidup, Rachmi Aziah Ismail Marzuki, 60, harus berhutang. Selama enam tahun terakhir ini, dia dan suaminya mengontrak di Perumahan Bappenas, Blok A 12, Cinangka, Wates, Sawangan, Depok. Dan sudah enam tahun itu pula, dia terpaksa mengutang uang kontrakan, karena tak mampu membayar.

"Meski pemilik kontrakan baik sekali sama saya dan kasih saya keringanan, tapi lama kelamaan tidak enak juga mas. Sampai sekarang saya belum bisa bayar kontrakannya," ujarnya. Rachmi memiliki empat anak ini. Tapi, saat ini di rumah kontrakan yang terletak di Depok, dia hanya tinggal berdua dengan suaminya, Muhammad Benny. Sementara anak-anaknya yang sudah berkeluarga sudah pisah rumah.
Ketika ditanya apakah tidak pernah ada bantuan dari pemerintah untuk keluarga Ismail Marzuki, Rachmi mengatakan ada. "Ada. Tahun 2004, Bapak Ismail Marzuki mendapatkan anugerah pahlawan nasional dari Presiden SBY. Dari situ kita mendapat Rp 1.5 juta perbulan sebagai tunjangan," ujarnya.
"Tapi, ada peraturan uang itu dirapel pertiga bulan sekali baru bisa diambil. Ya, begitu keluar langsung habis untuk bayar kebutuhan hidup. Tidak bisa ditabung untuk biaya kontrakan," tambahnya. Karenanya, untuk biaya hidup sehari-hari, anak Komponis besar Indonesia, Ismail Marzuki ini, harus berdagang menjual minuman ringan.
"Kebetulan di depan rumah saya ada sekolah SD. Saya bisa dagang, setiap hari bisa dapat Rp 30.000, lumayan untuk makan sehari-hari," ujarnya.
(sumber)
No comments:
Post a Comment